Antara Dendam, Hijrah, dan Cinta
"Dengan luka, kepahitan, lelah, dan bahkan darah sekalipun, itulah yang membuat kita layak meraih surga kelak. Surga itu mahal, tidak akan didapatkan oleh orang-orang yang tidak pernah berjuang, tidak pernah berkorban. Karena itu, jangan sedih dengan semua ujian. Yakinlah ujian itu datang, karena Allah sayang kita."
Dia menatapku lekat, tanpa berhenti berbicara dengan nada lembut yang menenangkan. Cara bicaranya itu sudah persis seperti seorang da'i berceramah. Air mataku entah sejak kapan mengering, aku pun lupa kapan terakhir kali aku berkedip. Dia tersenyum, dan terlihat sangat menenangkan dengan pencahayaan warna jingga yang menyoroti wajahnya.
"Pulang?" tanyanya mengulurkan tangan.
Chapitres populaires