Wonderstruck
“Belakangan ini otakku bekerja keras mikirin apa yang bisa bikin kamu nggak terlalu mencemaskan banyak hal. Tadinya aku sempat mempertimbangkan pilihan lain. Misalnya aja permen karet. Tapi aku sendiri nggak pernah suka ngeliat orang mengunyah permen karet sambil mengobrol. Kesannya kok nggak sopan. Yah, meski pendapatku itu masih bisa diperdebatkan. Jadi, untuk amannya, aku pilih lolipop aja.”
Bibir Amara terbuka, sama sekali tidak paham maksud kata-kata Sophie. Melihat ekspresinya, Sophie tergelak. Tangan kanannya malah melingkari bahu Amara, mengajak temannya kembali melangkah. Mereka sedang berada di koridor yang dipenuhi para mahasiswa yang berlalu lalang.
“Aku beneran nggak paham apa