Luka Seorang Istri
Kau tahu Dil, aku bukan pujangga yang bisa merangkai aksara cinta, tetapi setidaknya percayalah rasa ini masih samauntuk yang ke dua kalinya, secepatnya aku akan mengurus perpisahanku.
“Biar Mas pijat kepalanya! Duduklah di situ, sebentar lagi hujan nanti baju kamu malah basah.”
Syukurlah dia tidak menolak.
“Kamu tahu Dil, Mas belajar pijatan ini di vidio, bagaimana rasanya lumayan kan?”
“Sakit.”
“Sakit? Enggak mungkin Mas salah pijat, ini sudah benar kok.”
“Sakit.”
“Apanya yang sakit?”