Aroma Dalam Mimpi
Ren melihat bagian bawahnya, penisnya telah mengeras kembali hanya dengan memikirkan aroma wanita misterius tersebut.
“Ha... Bangsat!”
Ia mengumpat frustrasi, mengulurkan tangannya ke bawah. Tanpa ragu, tangannya terulur, meraih bagian tubuh yang terasa berdenyut-denyut, seolah hendak meledak. Ia menggenggam kepala penisnya, mengusapnya dengan gerakan kasar, seolah mencari pelampiasan dari rasa sakit yang tak tertahankan. Tangan Ren, yang kini telah dilapisi cairan kental, terus bergerak, mengolesi area sensitifnya dengan sentuhan yang bercampur antara rangsangan dan geli. Gerakannya semakin liar, tangannya meluncur turun ke pangkal penisnya, memompa dengan ritme yang semakin cepat.