Sebening Tirta
Napasku memburu, dada naik turun dengan cepat seperti atlit sprint yang habis mati-matian mengejar lawan demi memenangkan perlombaan di menit-menit terakhir, tanganku terkepal sempurna dengan mata merah yang basah dan wajah penuh peluh.
Tempat ini seharusnya menjadi tempat paling indah untukku, untuk Za dan seluruh anak-anak yang menemukan dirinya terbuang dari klan, keluarga bahkan ditinggal sejak lahir dari rahim menuju dunia. Kami di sini saling menemukan, memaknai kata keluarga dengan bahasa paling sederhana, tertawa, sedih, bahagia bersama-sama. Saling menghibur saat susah dan tertawa bersama ketika kebahagiaan menyapa, membenci bersama dan mencintai banyak hal yang sama. Kami saling me
Sikat na Kabanata