Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Handsome, But Dangerous!

Handsome, But Dangerous!

kata Adnan menghela napas, dia duduk dikarpet diikuti oleh Galan. "Sabar bro, bukannya cewek lo emang selalu lo jadiin babu ya," kata Galan dengan santai. Adnan menyengir. "Lah iya ya. Yaudah lah enggak papa cocok juga kok dia jadi babu," ucap Adnan membuat Bryan menggeleng tak percaya. "Adnan, otak lo kalau dijual pasti harga nya mahal," ujar Bryan. Adnan tersenyum bangga dan menyugar rambutnya kebelakang. "Ya sudah pasti dong secarakan otak gue nih otak profesor," Sahutnya bangga.
1011.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 356 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Dalam Dekap Hangat Pak Profesor

Dalam Dekap Hangat Pak Profesor

Ia melihat layar, rahangnya mengeras seketika. "Apa, Pak?" tanya Sasha, merasakan perubahan mendadak pada aura William. William tidak menjawab. Ia hanya memutar layar ponselnya sedikit ke arah Sasha. Di layar itu, sebuah tautan berita dari media gosip kampus yang baru terbit. Judulnya besar dan mencolok. “Profesor William Aditama Tertangkap Kamera Mencium Mahasiswi di Lantai atas Dansa! Mari kita hukum tindakan asusila itu! Jangan diam saja!”
9.421.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 449 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Obsessive Psychotic Men

Obsessive Psychotic Men

Adam mematikan sepihak panggilan itu setelah mengatakan apa yang Ia inginkan. Kalian tahu apa itu? Obat apa? Jawabannya.. Rahasia :) Adam itu licik picik kejam dan tak punya hati. Tapi kalian sungguh bodoh jika berfikir semua itu hal yang sebenarnya. Ya.. Adam itu jauh dari kata jenius, cerdas ia melampaui itu.. Ia diatas segalanya.. Ia.. Psycho yang menawan, penuh pesona.
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
My Bad Doctor

My Bad Doctor

Kali ini si pengacara yang bertanya. Pengacara itu membuka lembaran kertas yang ada di atas meja, untuk memperlihatkan cetakan beberapa foto. Itu semua berisi foto Manda yang sedang berkencan dengan beberapa lelaki berbeda, baik tua maupun muda. "Ini bohong." Manda mulai memekik. "Ini semua hanya editan. Ini tidak benar."
103.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
My Lecturer Is Mafia Boss

My Lecturer Is Mafia Boss

"Apa kamu sudah lupa cara bertamu di rumah orang Brilliant Maydeva?" Terdengar suara bass menggelegar mengejutkan Briliant dari arah kanannya. Brilliant pun spontan langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Dilihatnya sosok laki-laki dengan tubuh yang tinggi, kekar, dengan sorotan mata yang tajam membuat Brilliant tak berani menatapnya lama-lama. Dialah Davian Maghada, dosen pembimbing yang terkenal killer dan perfeksionis.
1.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Driving Me Mad

Driving Me Mad

Tepat pukul satu, setelah dosen mengatakan bahwa mata perkuliahannya selesai, dengan tergesa Shine membereskan buku-bukunya, karena Jim sudah menunggu di luar kelas. Ia tidak ada jam perkuliahan lagi. Jadi, demi menepati janji, ia terpaksa berbohong pada Daffa. Jika tidak, pria itu pasti tidak akan mengizinkan, apalagi setelah insiden mabuk bersama malam itu. Jim nampak melambaikan tangan ketika Shine terlihat keluar kelas. "Kemana kita akan pergi?" Tanya Shine memegangi tas ranselnya.
9.939.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Lampu meja memantulkan cahaya hangat ke wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat semakin tegas. Beliau — dosen yang terkenal dingin, misterius, dan jarang berbicara — diam-diam menjadi favorit di kampus karena ketampanannya yang membius kaum hawa. Dan kini, pria itu menatapku dengan sorot mata yang sulit kutebak, seolah ingin membaca pikiranku... atau mungkin, masa depanku. Aku menelan ludah, mencoba memastikan telingaku tidak salah menangkap. "Ma—maaf, Pak?" suaraku terdengar ragu, bahkan di telingaku sendiri.
908 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Air Mata Maduku

Air Mata Maduku

hardiknya dengan nada tinggi. Aku tau dia sedang kesal, karena Mas Dewa masih terus curi-curi memandangku. Sementara penampilannya pagi ini sangat berantakan. Lihat saja, daster buntungnya masih yang semalam. Sepertinya maduku itu juga belum cuci muka karena masih ada jejak berwarna putih yang menempel dekat pipinya, serta rambut yang belum disisir sama sekali.
9.6290.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 10.4K kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Rahasia Majikanku

Rahasia Majikanku

Rahasia Majikanku #6 Di perjalanan pulang, mataku tertuju pada sebuah bangunan berwarna cokelat. Sepertinya orang-orang yang ada di dalam bangunan itu sangat tepat untukku meminta pertolongan. "Minggir, Pak."
1022.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 640 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Crazy Rich Badboy

Crazy Rich Badboy

sahut Braga singkat, sambil mengepulkan asap rokok ke muka Roxy. "Mana janji lo? Yang sekian juta itu." tagih Keenan untuk uang taruhan mereka. Roxy lantas menggerakkan tangannya dengan kesal, tampak ia mengambil sebuah amplop coklat tebal, dari balik saku jaket kulit hitamnya, dengan logo 'Enemy Coffin' itu. Dan melemparkan amplop gendut warna coklat tersebut ke muka Braga, namun gagal menyentuh muka presisi cowok tersebut karena sudah buru-buru di tangkap oleh Rigel.
9.53.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78 kali sebagai professor and the madman
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ada satu momen yang nggak bakal pernah bisa kulupakan sama dosen killer yang ternyata punya pesona tersembunyi. Awalnya, seluruh kelas menjulukinya 'The Reaper' karena tingkat kegagalan di mata kuliahnya mencapai 70%. Tapi suatu hari, dia tiba-tiba membagikan cerita tentang bagaimana dia dulu pernah bekerja sebagai musisi jalanan sebelum jadi akademisi. Suaranya yang dalam sambil memainkan harmonika kecil di sela-sela kuliah bikin semua orang melongo. Mulai saat itu, kelasnya selalu dipenuhi—bukan karena takut, tapi karena penasaran dengan kisah hidupnya yang seperti karakter di 'Dead Poets Society'.

Yang paling memorable adalah ketika dia mengizinkan kami mengumpulkan tugas akhir dalam bentuk komik atau puisi, asal konsep akademisnya tercermin. Aku memilih menulis analisis filsafat Nietzsche melalui lirik lagu rock, dan justru dapat nilai tertinggi. Dosen killer itu ternyata menyimpan jiwa seni yang liar di balik image disiplinnya.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status