Ada satu momen yang nggak bakal pernah bisa kulupakan sama dosen killer yang ternyata punya pesona tersembunyi. Awalnya, seluruh kelas menjulukinya 'The Reaper' karena tingkat kegagalan di mata kuliahnya mencapai 70%. Tapi suatu hari, dia tiba-tiba membagikan cerita tentang bagaimana dia dulu pernah bekerja sebagai musisi jalanan sebelum jadi akademisi. Suaranya yang dalam sambil memainkan harmonika kecil di sela-sela kuliah bikin semua orang melongo. Mulai saat itu, kelasnya selalu dipenuhi—bukan karena takut, tapi karena penasaran dengan kisah hidupnya yang seperti karakter di 'Dead Poets Society'.
Yang paling memorable adalah ketika dia mengizinkan kami mengumpulkan tugas akhir dalam bentuk komik atau puisi, asal konsep akademisnya tercermin. Aku memilih menulis analisis filsafat Nietzsche melalui lirik lagu rock, dan justru dapat nilai tertinggi. Dosen killer itu ternyata menyimpan jiwa seni yang liar di balik image disiplinnya.