Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Bukan Sekedar Sahabat

Bukan Sekedar Sahabat

Fina yang melihat sang sahabat sudah kesakitan akhirnya turun tangan. "Woi, kalian mau masuk penjara atau gimana? Lepasin, gak! Aku tuntut pasal penganiayaan alias bullying baru tau rasa kalian. Lepas gak!" teriak Fina galak membuat Nurul dan Wulan melepaskan lengan Zio. "Ck. Biasa aja kali, Fin. Toh, Zio bukan pacar kamu. Sok kamu Fin," gerutu Nurul.
1028.5K viewsCompletedAdded to Library 655 Times as puisi bullying
Read
+Library
Dinodai Sebelum Malam Pertama

Dinodai Sebelum Malam Pertama

“Kau tak paham apa yang aku ceritakan, Rose! Manusia itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna! Namun kita jangan biarkan diri kita lemah, di bully! Meskipun aku unggul bela diri tetap saja aku phobia ruang sempit. Kalau kau tak betah tinggal di pondok, kau bilang pada ayahmu! Mintalah pulang! Kalau kau tak pandai hafalan, bukan karena kau bodoh! Persetan dengan perkataan para pembully! Mereka seperti singa dan berani karena bersama kawanannya. Namun ketika sendiri mereka seperti seekor lembu yang kesakitan! Kau kesulitan hafalan, kau bisa belajar lebih giat lagi! Atau kau bisa pindah ke pondok lain yang tidak terlalu membebani santrinya hafalan.
10146.7K viewsCompletedAdded to Library 3.4K Times as puisi bullying
Read
+Library
Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Dewi memberi petuah. Aku menggeleng pelan. “Nggak semudah itu, Wi. Kalo Mas Rangga turun tangan, gue bakal semakin dihujat habis-habisan. Mereka bakal bilang kalo gue memanfaatkan status. Mereka bakal semakin iri liat gue diperlakukan manis sama Mas Rangga. Inget, orang iri dan dengki akan melakukan apa saja untuk memuaskan nafsu dan keinginan mereka. Gue kagak mau, headline berita kampus terpampang nama gue yang mati gara-gara kena bully.”
1017.4K viewsOngoingAdded to Library 642 Times as puisi bullying
Read
+Library
Kurebut Suami Sahabat

Kurebut Suami Sahabat

"Kamu jangan cari kambinh hitam, ya. Aku nggak suka kamu ganggu Yulia begitu!" Jema tidak terlalu menanggapinya dengan serius. Insiden bullying dan aksi saling melabral seperti ini mengingatkannya pada zaman masih sekolah dulu. Entah mengapa orang lain suka sekali memosisikan diri seolah mereka yang paling benar, paling kuat dan suci. Lalu, memperlakukan orang-orang yang dianggap lebih rendah seperti sampah. Padahal, jika dilihat dengan kasat mata pun, tidak ada sekat yang membedakan sosial mereka. "Siapa yang ganggu siapa?" jawab Jema sambil membalik dokumen di tangannya. Bahkan atensi, tatapannya tidak dia berikan kepada wanita itu.
2.2K viewsCompletedAdded to Library 59 Times as puisi bullying
Read
+Library
Di Penghujung Waktu

Di Penghujung Waktu

ujar Santia setengah mengejek. Vivia sadar akan hal itu. Dari dulu Vivia adalah korban bully. Penampilannya yang cupu, kacamata yang selalu bertengger di hidungnya, membuat semua orang senang mengganggunya. Vivia takut untuk melawan. Mereka selalu berkata dirinya ini bodoh, anti sosial, dan cupu karena tidak bisa berpenampilan.
4.3K viewsOngoingAdded to Library 172 Times as puisi bullying
Read
+Library
Attack of Playboy

Attack of Playboy

“Ketiga, aku sudah bilang untuk menghindari kekerasan. Namun, apa sudah kalian lakukan barusan? Memukuli murid? Apa kalian preman?” Aku benar-benar tersinggung saat dia menyebut kami sebagai preman. Kudorong bahunya keras-keras sehingga sedikit terpental ke belakang. “Apa kamu tahu rasanya menjadi korban bully? Setiap hari, mereka datang ke sekolah dengan perasaan gelisah. Mereka tidak bisa belajar dengan baik, mata mereka memanas dan berair ketika mulut-mulut kotor si penindas mencemooh dengan kata-kata kasar. Mereka lelah dipermalukan di depan anak-anak lain. Mereka mencoba berlindung di balik orang dewasa, tetapi bahkan orang dewasa hanya mengomeli si penindas dan berpikir masalah selesai
7.53.3K viewsCompletedAdded to Library 69 Times as puisi bullying
Read
+Library
The Return of Friendship Shoes

The Return of Friendship Shoes

Mereka seolah dendam kepada Alan, menjadikan hari-hari Alan setelah itu menjadi momok yang menakutkan. Mereka yang terbully bukan berati lemah, hanya saja keadaan dan perlakuan buruk yang diterima membuat mulut mereka terkunci rapat. Beberapa di selimuti rasa takut yang mendalam. Tidak bersuara bukan berati mereka baik-baik saja dengan itu. Tidak melawan bukan berati mereka benar-benar tidak bisa membalas. Bukankah bullying dalam hal dan bentuk apapun tidak bisa dibenarkan sebaik dan spesial alasannya yang di berikan? Mereka ketakutan, namun tidak jarang orang lain mengira mereka adalah makhluk lemah yang tidak bisa melawan barangkali untuk membantah. Tau apa mereka? Hanya mengetahui bahwa p
102.1K viewsOngoingAdded to Library 70 Times as puisi bullying
Read
+Library
Aku Bukan Tulang Punggung

Aku Bukan Tulang Punggung

Ketika sampai dirumah, Zahara langsung dipukuli oleh Bagas, tanpa bertanya Bagas langsung memukul Zahara tanpa ampun. "Kurang ajar kamu ya, aku capek jemput kamu ke sekolah, kamu malah kelayapan, mau jadi apa kamu hah? Mau jadi perempuan jalanan? Iya? " Bentak Bagas sambil memukul tanpa henti, Seragam sekolah Zahara dirobek Bagas. "Tidak usah kamu sekolah lagi, kalau kerjaanmu cuma kelayapan, aku bakar saja baju sekolahmu ini"
102.1K viewsOngoingAdded to Library 55 Times as puisi bullying
Read
+Library
Dicintai Kakak Tiri Posesif

Dicintai Kakak Tiri Posesif

cicitku pelan dari kejauhan. Jujur, aku tak habis pikir jika di zaman yang sudah canggih begini masih ada tindak bullying antar teman. Lucunya lagi, si pelaku malah tertawa terpingkal-pingkal seolah itu hanya candaan biasa antar seorang sahabat. "Juni, Juni! Makanya kalo mau sekolah mandi dulu!" ledek cowok berseragam serampangan yang dipanggil Dev tadi.
87.1K viewsOngoingAdded to Library 205 Times as puisi bullying
Read
+Library
Obsesi Sang Pewaris

Obsesi Sang Pewaris

Ambar membalas dengan sentimen yang sama. “Kalian pikir bullying kayak gini keren, huh? Nggak! Kalian itu norak sekali. Nggak bisa menyelesaikan masalah dengan benar dan milih main keroyokan seperti pecundang!” “Your inferiority complex is showing! Memalukan!” ujar Ambar sambil bersedekap. Menatap mereka yang membantu Renata bangkit kembali setelah terjatuh. Suara Ambar yang tegas membuat tensi semakin tinggi di dalam ruangan ini.
109.8K viewsCompletedAdded to Library 305 Times as puisi bullying
Read
+Library
PREV
1
...
45678
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status