Tawanan yang Menawan
“Purnomo teko, gunung mampet dadi suoro, aku teko ojo lungo.”
Wirya mendengarkan dengan seksama. “Dan itu berhasil?”
Kuncoro terkekeh pendek, sinis. “Tidak pernah. Pamanku sendiri, dulu nekat mencoba. Ia membawa semua persembahan, mengucapkan mantra itu sampai lidahnya kering di tengah kabut purnama. Hasilnya? Hanya dingin yang menusuk tulang dan kesunyian yang mengejek. Joko Loyo tidak juga muncul. Mantra itu mungkin Cuma sajak usang untuk menakuti anak-anak, atau... kita salah menafsirkannya. Yang jelas, itu semua hanya dongeng pengantar tidur. Aku sendiri tak pernah punya nyali untuk membuktikannya.”
Hot Chapters