Ada sesuatu yang sangat intim dan personal dalam puisi-puisi Joko Pinurbo. Bicara tentang tema utamanya, aku selalu terpukau bagaimana ia mengolah hal-hal sehari-hari menjadi sesuatu yang magis. Pakaian, misalnya—ia sering menggunakan baju, celana, atau topi sebagai simbol untuk mengeksplorasi identitas, kehilangan, atau bahkan spiritualitas.
Yang bikin karyanya istimewa adalah cara ia menyelipkan humor dan ironi di tengah kedalaman tema. Puisi 'Celana' yang jadi iconic itu contohnya: celana yang dicuri jadi metafora lucu sekaligus menyentuh tentang pencurian waktu atau masa muda. Aku rasa pesona Joko Pinurbo terletak pada kemampuannya membuat pembaca tertawa dan merenung dalam satu tarikan napas.