Cinta Sulit Ditemukan, Air Mata Menjadi Lautan
Setelah rujuk, aku memutuskan untuk menyewakan istriku sendiri.
Setiap kali sahabat cowoknya menelepon dan menyuruhnya pergi, aku tak lagi marah-marah seperti dulu.
Alih-alih mengamuk, aku justru memberlakukan tarif per jam.
Siang hari, 200 juta per jam. Malam hari, 400 juta per jam. Hari libur dihitung tiga kali lipat.
Baru berjalan tiga bulan, rekeningku sudah bertambah hampir 40 puluh miliar.
Suatu hari, kami sudah berjanji pergi memilih setelan jas untuk menghadiri jamuan makan malam. Namun, di tengah jalan, sahabat prianya menelepon, mengeluh jarinya terluka saat memotong sayuran.
Tanpa repot-repot mendongak, aku hanya menyodorkan kode QR pembayaran ke hadapan istriku.
Suatu malam, aku mendadak demam tinggi. Saat istriku sedang menyetir untuk mengantarku ke rumah sakit, ponselnya kembali berdering.
Sahabat cowoknya mengeluh mabuk berat, merasa tidak enak badan, dan tidak bisa tidur.
Dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, aku mengambil payung dan menyuruhnya menurunkanku di persimpangan jalan depan.
Melihatnya yang tampak ragu-ragu dan hendak mengatakan sesuatu, aku hanya tersenyum tipis. "Jangan lupa transfer uangnya, ya."
Hingga tiba hari di mana putra kami harus pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin.
Sahabat cowoknya lagi-lain menelepon. "Caca ingin ke taman bermain nih, tapi tempat kayak gini kayaknya bakal lebih seru kalau ada sosok perempuan yang nemenin ...."
Setelah menutup telepon, istriku berbalik. Dia hendak berjongkok untuk membujuk anak kami.
Akan tetapi, putra kami justru meniru caraku. Dia mengulurkan tangan kecilnya ke hadapan ibunya.
"Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tinggal transfer uangnya aja ke aku. Harganya harus tiga kali lipat"