Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Setelah Aku Mendua

Setelah Aku Mendua

tanya Gea. "Iya, karena batu tidak boleh dilawan dengan batu tapi batu itu harus dilawan dengan air," jawab Rendra. "Maksudnya kalau ada temen kita pukul dengan batu kita pukul pakai air?" Rendra tertawa mendengar jawaban polos dari Gea. Lelaki tampan itu mengelus kepala dia dengan tangan kiri sementara tangan kanannya masih tetap memegang setir.
17.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 418 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Sang Kupu-Kupu Malam

Sang Kupu-Kupu Malam

“Kita sudah terlalu dalam untuk mundur.” Kata-kata itu terasa seperti beban yang semakin berat. Mereka berjalan lebih lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah bar kecil yang terletak di sudut jalan. Tempat itu tampak sepi, dengan hanya beberapa orang yang duduk di meja. Lampu yang remang-remang menciptakan atmosfer yang gelap dan nyaman, seolah-olah dunia luar tidak pernah ada.
830 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
LEAK

LEAK

TUMBAL Kutatap mega kian menghitam Kelam berbalut shyam, hening Tak kudengar lagi suara rintihan Tiada lagi suara lolongan anjing liar Hanya gelap, tak ada siapa pun Yang hitam semakin pekat Yang kelabu semakin gelap gulita Tiada warna maupun rupa, hanya akara semata Semakin hening semakin syahdu Hanya ada aku dan semilir angin Di antara gemericik rinai menimpa daun Kidung malam mengalun perlahan Paksa menyinari sosok hitam Terkubur di antara pepohonan Andam karam di gelap malam Membawa janin manusia suci
9.916.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 334 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Si Lesung Pipi

Si Lesung Pipi

Pernah mewarnai dunia Puisi terindahku hanya untukmu Mungkinkah kau kan kembali lagi Menemaniku menulis lagi Adam sudah merebahkan diri di lantai saat Reff itu masih berlanjut. Dinginnya lantai semoga bisa meredam panas di dalam dada. Kita arungi bersama Puisi terindahku hanya untukmu. Dengan masih tetap memegangi dada, dia meringkuk menangis berteriak tanpa suara. Melepaskan semua, mencoba menerbangkan ke langit, semoga terbawa oleh angin dan mengubur di suatu tempat yang tidak bisa djangkau oleh siapapun. Semua rasa cinta dan patah hati. semua penyesalan dan harapan.
109.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 295 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
FREL.

FREL.

Aku berkonsentrasi penuh, memusatkan pikiran pada puisi yang cocok untuk kujadikan acara penembakan. Aku berdeham sebelum memulai mengucapkan satu karya lagi buat Kak Kevan. "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada." "Gue juga suka puisi itu, berjudul "Aku Ingin" karya dari Sapardi Djoko Damono."
9.426.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 869 kali sebagai puisi mendung
Tampilkan Ulasan (46)
Baca
+Pustaka
Pengelana Tersesat
Ceritanya seru, tapi sekedar saran, perlu koreksi cara promosi. Lebih halus dan sopan ke Author. Takutnya promo kaya biasanya bakal bikin masalah di masa depan. Tapi, klo mau lanjut juga silakan. Saya yang tersesat hanya mengingatkan agar hanya saya seorang yang tersesat
Nisa Nurpasa
Mampir juga yuk ke novel 'Menikahi Gadis Desa' ... Sarah Larasati, terpaksa menerima perjodohan dengan seorang pria kota bernama Fabian Aditama. Bukan tanpa alasan ia menerima perjodohan ini, hutang sang ayah lah yang menjadi alasannya. Akankah Sarah bahagia bersama pasangannya kelak? Atau hanya p
Baca Semua Ulasan
Petaka Mendua

Petaka Mendua

Part25 °pov Aisya° "Mas, kamu hargain aku dong! Aku ini juga istri kamu, aku nggak mau di perkenalkan sebagai pembantu!" rengek Dinda. "Memang pantes kok di kata pembantu! Norak soalnya!" cetus Bu Daung dengan mencibir. "Heh, nggak usah ikut-ikutan dong! Makin runyam aja nih," sahut Dinda, masih pelan, tidak segalak di awal.
1099.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.0K kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Delia (Gadis Pengagum Senja)

Delia (Gadis Pengagum Senja)

Senja Kau memberikan ketenangan Datangmu penuh harap Meninggalkan kesepian Ketika kau pergi, Pertemukan ku dengan malam Senja aku tak ingin sendiri Penuh asa menunggu mu datang Memandang pelik di tepi Pantai Riuh suara desir angin Menyapu keheningan Semua orang lantas bertepuk tangan dengan puisi yang di bacakan Delia. Gadis itu pun sangat senang tak hentinya tersenyum,di belakang Damar melambai ber isyarat memberikan selamat pada sahabatnya. Delia yang melihatnya pun ikut melambaikan tangan dan lantas menemui Damar. Mereka berdua duduk bersama sambil menunggu pemenang lomba yang akan di baca oleh Juri. Delia sudah tak sabar menunggu sesekali melihat kesekitar ruangan. Dan pada akhirnya Juri
106.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 172 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Mencarimu dalam Bimbang

Mencarimu dalam Bimbang

Aku tak tahu Kemana harus ku cari sosok itu Setiap insan ku uji dengan caraku sendiri Hingga aku tak pernah menemukan sosok yang ku maksud Namun, kini ku temukan sajak yang ku tunggu Rembulan itu kini bergulir dalam irama laguku Dan ku nikmati cinta yang ku janjikan pada-Mu Tuhan, Berikan aku sehelai kain panjang Agar ku dapati terbang bersama bidadari yang kau kirimkan Coretan warna bertumpu pada kekokohan sebuah dinding. Angin rindu bertiup, bagai gunung dan lembah yang membekukan jalan, sangat dingin. Hujan menyerang di luar musim, melunturkan warna berseri hingga sendu bermukim di pangkuan gelapnya harapan filu. Dan dinding-dinding itu rapuh, jatuh, bagai reruntuhan batu dalam gua-gua pe
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Istriku Meninggal Dihari Pernikahan Keduaku

Istriku Meninggal Dihari Pernikahan Keduaku

___*****____ POV HESTI harinya mendung, persis dengan perasaanku saat ini, bagaimana mungkin, perasaan itu harus terus mengalah dan di korbankan demi kepuasan seseorang. Hujan, setidaknya engkau lah mewakili rasa sakitku saat ini. Biarlah ku lewati sepiku, berteman rasa sakit yang membuncah di dada, menahan bulir bening yang ngamuk ingin keluar dari pelopak mata.
1026.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 966 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Nilakandi

Nilakandi

Oh Pecandu, rupanya matahari menyambutmu dengan senyumnya, Desir angin itu akhirnya mendekatkanmu pada bahagia, Ah tunggu, bahagiakah? petakakah? Sang waktu menunggumu bercerita, datanglah. Puisi misteri menggema di laut menguning lagi. Ya, Diwana lagi-lagi terjebak di dalam mimpi versi keduanya itu.
105.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 148 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status