Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Sang Menantu Perkasa

Sang Menantu Perkasa

"Jalan utara terbentang luas, awan menutupi bulan. Gagak tua di ujung ranting menangis sia-sia. Di dunia ini ada kuda hebat, tapi tiada pengenal sejati. Tanah kuning membentang jauh, hanya menyisakan belas kasihan bagi orang berbakat yang tak dihargai." Tubuh Dewi bergetar, dia hampir terjatuh. Arjuna juga tertegun sejenak. Puisi ini ditulis oleh Arjuna kemarin ketika dia merasa sedih setelah minum anggur. Ketika dia bangun paginya, dia sudah tidak melihatnya. Dia pikir kasim atau dayang istana yang mengambilnya, jadi Arjuna tidak memerdulikannya. Ternyata jatuh ke tangan Yudha.
9.3427.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14.1K kali sebagai puisi mendung
Tampilkan Ulasan (65)
Baca
+Pustaka
Hamfa Merman
Kisah seorang wanita muda yang pergi ke ibu kota untuk meraih mimpi malah mendapati CEO luar biasa aneh yang tinggal tepat di sebelah kamar apartemen miliknya. Baca hanya di novel berjudul CEO MISTERIUS DI SEBELAH KAMAR. Dijamin seru, menegangkan, dan baku hantam serta adu mulut pun ada.
Easy Loundry
ga cocok u pembaca kek aku yg menyanjung, pria dgn 1 wanita, yg g playboy, g apa2 jahat, intimidasi yg penting u 1 wanita, g suka pria yg gonta ganti wanita, celup sana celup sini. jd blm berani baca buku thor yg ini.. mianheee thorrr, nyari buku dgn judul yg laen milik thor aja...
Baca Semua Ulasan
KEMBALINYA SANG RATU

KEMBALINYA SANG RATU

Mentari merangkak perlahan dari balik pegunungan yang diselimuti kabut tipis, seperti lukisan tinta di atas kanvas pagi. Di kejauhan, daun-daun cemara Korea menggigil dalam embun, mengguratkan puisi sunyi yang hanya dimengerti oleh jiwa-jiwa yang telah belajar mendengarkan bisikan angin. Di beranda rumah Nyonya Choi yang menghadap ke timur, Lintang duduk bersila, memejamkan mata, meresapi getaran pagi seperti seorang pertapa yang menjahit makna dari setiap napas alam.
3.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 107 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Dewi Medis Kesayangan Kaisar

Dewi Medis Kesayangan Kaisar

“Di ujung pedang berdarahmu yang telah tumbang Hidup seseorang kau renggut tiada kasihan Arak Bunga Persik menyisakan penyesalan Sendirian menangis menyelami lautan awan Menggenggam setangkai bunga persik, kesepian.” Tepuk tangan dan seruan kagum menggema begitu Xie Qingyan menyebutkan nama penyair terkenal dari zaman dulu.
9.851.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Days to Remember

Days to Remember

Lembaran senja menjadi sembilu Sejuta sajak bukan indah terlalu Melainkan pelangi yang tersembunyi benalu Menjadi saksi Sang Maha Tahu Wahai kau, Senja yang mengikat waktu Melepas sembilu menjadi lalu Kemudian hening di fajar yang baru Menanti pelangi berbaju baru. Pagi ini semua tak tampak biasa, banyak murid yang berdiri di depan majalah dinding. Dalam hitungan menit setelah sampai di sekolah, aku bisa mendengar rumor bahwa ada puisi bagus di rubrik mading. Pundakku terasa terangkat, aku bisa merasakan atmosfer teman-teman lainnya yang mungkin saja menyukai puisi yang kutulis kemarin itu. Aku dan Ani, ikut pergi untuk melihat mading, anak-anak kelas sebelah dan kakak kelas juga ikut menger
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Syair Singgasana 1 : Prahara Di Balik Kabut

Syair Singgasana 1 : Prahara Di Balik Kabut

Pria tua itu bersujud di depan batu bertulis itu dengan ribuan emosi yang sepertinya tak mampu dijelaskan oleh riuhnya hujan deras dan derunya angin kencang malam itu. SELESAI *************************************************************************************************************** NAMUN PERANG TAK AKAN PERNAH USAI. SAMPAI JUMPA DI SYAIR SINGGASANA JILID 2
1015.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 602 kali sebagai puisi mendung
Tampilkan Ulasan (6)
Baca
+Pustaka
Tommy Rainbowisdom
Nah ini, novel fantasy yang aku tunggu-tunggu. Udah bagus, bikin penasaran lagi... Penasaran sama kelanjutan cerita Ganendra, Ayunda, dan karakter-karakter lain. Settingnya juga oke punya ... Ada kota favoritku, Palangkaraya. Cepet-cepet update, Thor!
fatekhatur rohmah
Temponya emang gak terlalu cepat, pelan tapi udah ada kejutan di bab-bab awal dan bikin penasaran. Dialognya bagus dan penulis bener2 pas ngasih momen yang bikin aku kaget alias ga buru-buru. Masih belum bisa ditebak tokoh jagoannya yh mana nih, plis deh yg kayak gini jangan cepet2 tamat
Baca Semua Ulasan
Sebelum Hujan Membasahi

Sebelum Hujan Membasahi

Namanya juga mendung. Tak selamanya ia mampu mengundang hujan. Hadirnya hanya memberi isyarat kepada makhluk bumi agar lebih siap ketika hujan turun kembali membasahi. Sedia payung sebelum hujan, mungkin suatu selogan yang tidak asing lagi terdengar pada sepasang telinga kita. Perihal mendung dan hubungan, seakan menjadi sebuah kalimat yang berbeda, namun hampir mirip dalam pemberian makna. Bagaimana tidak? Ketika mendung mampu hadir tanpa memberi hujan, begitupula sebuah hubungan. Ia mampu hadir memberi kenyamanan, datang dengan sebongkah kata kepalsuan. I love you, I Miss You, dan lain sebagainya. Namun tanpa berdasarkan sebuah rasa sayang yang timbul dari perasaan.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 112 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Alstroemeria

Alstroemeria

"Pendaran purnama menerpa kamar Terbayang dinginnya halaman luar Menerawang terpana terang rembulan Menunduk terindu kampung halaman." "Berjudul 'Rindu dimalam sunyi' karya dari Li Bai pujangga legendaris." Cukup memudahkan aku! Ah suasana ini membuat aku semakin semangat saja.
1015.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 374 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

*** Puisi Kerinduan *** Kurangkai sebait puisi sederhana Tempatku menuangkan segala asa Kupersembahkan khusus untukmu Wahai ... sang pemilik rindu Di sini ku terdiam Terbelenggu tabir hitam Entah kapan engkau datang Membawa secercah harapan Wahai ... sang Bayu Cukuplah engkau bersamaku Mendengarkan nyanyian pilu Dari jiwa yang terpaku Walau lelah Walau payah
2.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
PAPA MUDA

PAPA MUDA

PAPA MUDA 20 A Oleh: Kenong Auliya Zhafira Ibarat mendung berbalas hujan layaknya hati yang mulai terpaut rasa. Mengetahui kesamaan perasaan seseorang pastinya seperti belaian angin yang datang memberi kesejukan. Apalagi setelah sekian lama panas karena hati berselimut bara api kisah lalu. Sempat menghanguskan impian, tetapi seiring berjalannya waktu kembali menemukan tempat baru meski hanya tersisa butiran debu.
108.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 311 kali sebagai puisi mendung
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status