Ada satu malam ketika semua lampu seolah padam, dan aku duduk di tepi tempat tidur dengan kepala penuh kegelapan. Lalu, seperti ada bisikan dari sudut ruangan yang terlupakan, aku mulai mencoretkan kata-kata di notes ponsel. 'Kau pernah terjatuh tujuh kali, bangun delapan—tapi kali ini, kau lupa menghitung.' Puisi itu tumbuh sendiri, menjadi mantra yang kubaca setiap pagi sebelum beranjak. Sekarang, setiap kali rasa ragu datang, aku buka kembali catatan itu dan tersenyum pada diri yang dulu—dia tidak tahu betapa kuatnya dia nanti.
Puisi bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah jejak perjalanan jiwa. Aku menyimpan setiap versi draft-nya sebagai pengingat bahwa proses bangkit itu seperti menulis: terkadang kita harus menghapus seluruh halaman untuk menemukan baris yang tepat.