Suatu Senja di Tanah Senja
“Hentikan, Ana. Sudah cukup, jangan ceritakan apa pun lagi. Aku tidak sanggup mendengar lebih banyak dari ini. Marx adalah orang kedua yang paling aku kagumi setelah ayahku. Marx, pemikiran-pemikirannya banyak sekali mengubahku. Idelismenya jugalah yang mempertemukanku dengan cinta sejatiku. Marx, dia cahaya yang menggetarkan, tangan yang hangat, dan keindahan untukku.”
Ana mengembuskan asap sigaretnya lalu tersenyum. “Seorang bijak pernah bekata: cinta pada dasarnya adalah kemampuan untuk memberi, atau setidaknya untuk berbagi dengan orang lain. Ketika seseorang mencinta, dia akan mencurahkan yang ada dalam dirinya yang paling berharga yang dia miliki dan mengabdikan hidupnya. Tapi ini buka
Hot Chapters