Budak Kesayangan Sang Tiran
Lalu, sebuah tawa menggema.
Tawa itu bukan hanya suara, itu adalah getaran yang meninggalkan gigil di tulang, datang dari segala arah sekaligus, dipantulkan dan diperkuat oleh ribuan cermin. “Teruslah berjuang, jiwa kecil yang tersesat. Setiap pukulan hanya memberi makan kekuatanku di sini.”
Lysandra berhenti, menarik napas dalam-dalam. Panik adalah musuh. Dia menutup mata, memutuskan umpan visual yang membingungkan.