Cacian Keluarga SuamiKu
Udara segar dari pepohonan pinus membawa aroma resin yang menenangkan, berpadu dengan kehangatan perapian yang masih menyisakan bara dari malam tadi.
Di ruang tamu, Ayudia duduk bersila di dekat jendela besar. Rambutnya terurai, matanya menatap jauh ke luar, ke arah bukit yang tertutup kabut tipis. Ia seperti tak percaya pada ketenangan ini. Setelah hari-hari penuh pelarian, dentuman ketakutan, dan bayang-bayang maut, kini ia bisa menghirup udara tanpa rasa was-was.
Namun, pikirannya tidak benar-benar tenang. Sejak semalam, kata-kata Arthayasa terus menggema di telinganya, “Aku janji, ‘kan?”
Hot Chapters