Kebangkitan Sang Putri Terbuang
Suara kecapi terdengar lembut, tapi udara terasa berat.
Selir Agung duduk di sisi kanan Kaisar, senyumnya manis seperti madu beracun.
Begitu Lin Yue dan Pangeran Mo masuk, semua kepala menoleh.
“Oh... rupanya Putri Yue sempat tidur? Kudengar paviliunmu semalam cukup... ramai,” ucap Selir Agung lembut, tapi setiap kata meneteskan racun.
Lin Yue menunduk sopan, bibirnya melengkung tipis. “Benar, Selir Agung. Aku memang tak bisa tidur nyenyak... mungkin karena ada terlalu banyak tikus malam berisik di atap.”