Aku Menyerah, Mas!
“Jam empat. Di musala juga sudah tarhiman. Buruan Sayang, bangun, apa mau Mas gendong ke kamar mandi?”
“Memangnya aku anak kecil?” Salwa lekas menyibak selimut, mengikat rambutnya asal kemudian mengayunkan kaki menuju toilet yang ada di bilik kami.
Dengan perasaan deg-degan juga penuh harap aku terus menatap wajah istri kala dia sedang mencelupkan benda pipih sebesar ibu jari ke dalam urine yang sudah dia tampung, terus memohon supaya Allah lekas menjawab doa-doa kami, menitipkan amanah berupa seorang buah hati kepada kami berdua.