Salah Melamar
ucapku lirih.
“Iya. Apa kamu sudah melupakanku?” Ia terkekeh. “Bukan salahmu juga, kita bertemu juga baru sekali ya, Bu Khadijah.”
Aku mengangguk.
Hampir dua jam lamanya acara itu baru selesai, karena seusai sambutan-sambutan itu kami di suguhkan oleh performa dari bakat-bakat anak didik disini. Ada yang menyuguhkan tarian, drama, pantun, dan terakhir puisi yang mampu membuat air mata ini kembali meleleh. Sepenggal kisah yang ditulis dengan bahasa sastra nan apik, mengingatkanku dengan Mas Ammar yang telah pergi.
Hot Chapters