Dosa dalam Cinta
Satrio berdiri di tengah aula, tubuhnya basah kuyup, napasnya terputus-putus, tatapannya tertuju pada Citra yang duduk kaku di bangku kayu, wajahnya pucat, rambutnya menjuntai basah, dan matanya—mata yang dulu penuh cahaya dan kelembutan—kini kosong, seperti kaca buram yang tak memantulkan apa-apa kecuali bayangan samar dirinya yang hilang.
Liontin di dada Satrio berdenyut, cahayanya biru pucat, seirama dengan detak jantung yang menghantam tulang rusuknya seperti palu. Tangannya mengepal di sisi tubuh, gemetar oleh amarah, rindu, dan rasa bersalah yang menggumpal menjadi satu, menciptakan badai di dadanya yang siap meledak kapan saja.
“Citra…” suara Satrio pecah, retak, penuh luka yang tak b
Hot Chapters