Suami Wasiat Kakek
Sepanjang jalan keduanya hanya diam tanpa kata, membiarkan angin siang itu memporak-porandakan rambut Katarina di balik helm.
“Sampek, turun, Kak!” seru Atalas saat sampai di sebuah cafe terkenal di jalan Suhat.
“Ramai, Ta.” Katarina turun dengan bantuan Atalas.
“Kalau sepi, hati aku, Kak,” ledek Atalas terkekeh.
Katarina hanya diam tidak membalas lawakan Atalas yang garing, perlahan ia berjalan masuk ke cafe dan memesan matcha latte kesukaannya.
Bab Populer