Mendengar 'Scarlet Ribbon' lagi membuatku selalu berhenti sejenak—lagunya punya lapisan yang nggak langsung ketahuan, dan itu yang paling seru.
Pertama, aku suka mulai dari terjemahan literal: buka kamus, catat arti tiap kata dan frasa. Jangan langsung puas dengan satu terjemahan; bandingkan beberapa versi karena penerjemah berbeda menangkap metafora dan nada dengan cara yang berbeda. Setelah itu, aku baca ulang lirik sambil dengarkan lagunya; perhatikan di mana vokal meregang, napas jadi terputus, atau ada penekanan pada kata tertentu. Itu biasanya tanda penting untuk makna emosional.
Lalu aku gali konteks: siapa penulisnya, latar cerita (kalau lagu bagian dari game/film/novel), dan simbol yang mungkin dipakai—misalnya warna, pita, atau gerak yang jadi motif. Kalau ada frasa idiomatik yang aneh, aku cari padanan idiom dalam bahasa kita daripada terjemahan kaku. Terakhir, jangan takut menikmati ambiguitas; beberapa baris memang sengaja dibuat multi-interpretatif. Pada akhirnya, aku lebih suka versi terjemahan yang masih menyisakan ruang buat perasaan sendiri daripada yang terlalu basah diartikan.