Nafkah Batin Basi
Dia menunggu di ujung tangga dengan sabar.
“Iya, Rin. Sepertinya aku nyerah, aja. Sekarang aku baru sadar, siapa diriku yang sebenarnya. Seseorang menyadarkan aku. Kalimatnya begitu kasar memang, tapi apa yang dia bilang sangat benar. Aku seperti pungguk merindukan bulan. Gak pantas aku berharap lebih, bukan? Aku harus ngaca? Aku harus sadar siapa aku. Mana ada laki-laki jaman sekarang yang tidak mengutamakan penampilan dan wajah, bukan? Sekalipun Mas Leo hanya mandor proyek, tapi dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dan lebih segala-galanya dari aku. Siapalah aku ini. Ok, ya. Kita ketemu di café biasa. Stres banget, nih. Daaah …!”
Sikat na Kabanata