Takdir Memisahkan Kita
Karena kebiasaan mabuk berkepanjangan, wajahnya terlihat pucat dan kusam.
Bima menatap gaun yang dikenakan Laila cukup lama, sebelum akhirnya berkata dengan suara rendah, “Gaun itu... sangat cocok untukmu.”
Laila menyembunyikan keterkejutan di matanya. Setelah terdiam sejenak, ia mengangguk ringan.
“Terima kasih.”
Bima menangkap rasa dingin dari mata Laila. Ia tersenyum pahit dan berkata lirih, “Tenang saja, aku tidak berniat merebut kamu, apalagi menyakitimu. Aku hanya ingin melihatmu.”