Perjanjian Gaib Untuk Kekayaan
“Kalau aku diam di rumah sakit, aku hanya akan jadi tontonan. Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya kakekku lakukan dulu. Semua ini tidak akan berhenti kalau kita tidak tahu asalnya.”
Kami berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan. Aku butuh duduk, dan Sinta butuh menenangkan pikirannya. Sambil menyeruput kopi pahit, aku menceritakan apa yang kuingat: rumah kakek, sumur, pesugihan, paseban bawah tanah, tanda yang kutulis dengan darah. Sinta mendengarkan dengan mata membelalak, kadang menggigil, tapi tidak sekali pun ia menyela.
“Jadi…” katanya akhirnya, suaranya pelan, “perjanjian itu masih hidup. Dan kau… jadi penjara.”
Bab Populer