Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
MERTUAKU MISKIN

MERTUAKU MISKIN

Kecuali kepalanya yang masih menampakkan rambut hitam sebahu. Tapi, aku rasa gadis itu bukan lah wanita nakal atau pun pembangkang. Walau baru kali ini aku bertemu, namun dalam sekilas pun aku bisa menangkap, jika dia memang wanita baik-baik dan tahu batasan. *** "Skripsinya sudah selesai, Mas?" tanya Asmarani dari kursi belakang. "Belum," jawabku singkat. "Pasti pusing, ya? Hehe." Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, lalu membiarkan kegemingan menaungi kami.
9.49.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 259 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Sketsa Cinta Arina

Sketsa Cinta Arina

Itu kalimat pertama yang bisa aku ucapkan sejak saat kado itu diserbu oleh mereka. Sketsa itu aku buat persis di malam hari setelah aku dan Andre jadian. Wajah tampannya yang terlihat macho hari itu terbayang-bayang di anganku, lalu aku terpikir untuk mengabadikannya dalam gambar. Inginnya aku simpan sendiri, tapi semalam aku berubah pikiran dan memasukkan sketsa itu ke dalam kotak hadiah untuk Andre. Tentunya aku sudah sempat mengambil gambarnya dengan kamera ponselku. "So sweet banget sih kamu, Rin," kata Santi yang sudah kembali ke mejanya di sebelahku. Aku mencebik malu-malu.
1016.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 616 kali sebagai sketsa murni
Tampilkan Ulasan (28)
Baca
+Pustaka
Teha
sekadar info: standar penguncian bab di GN sekarang dipukul rata 14 koin, bila jumkat dlm bab di bawah 1400 kata, ya. 1000 kata pun ttp byr 14 koin. namun utk novel ini sendiri, koin/bab bs lebih besar dikarenakan jumlah kata yg lebih banyak, jd sebenarnya pembaca mdpt harga lama 1 koin/100 kata.
Dwi Setiawati Puralangga
Sukaaa bangettttt... Alur ceritanya bikin ingat masa2 muda dulu.. ........ Dibawa mengenang ke masa itu, dan selalu saja senyum2 sendiri tiap baca.. .......... Intinya sukaaaaa.. ...️...️...️. Makasih ya Teha.. Bikin mood jadi bagus...
Baca Semua Ulasan
Sketsa Hujan

Sketsa Hujan

"Sneak peek untuk pameran 'Jejak yang Tertinggal'. Karya terbaru dari Aksara Sendja Nirmala: 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan'. Elang menatap detail sketsa itu. Sebuah kursi kosong di bandara dengan latar hujan abu-abu di baliknya. Elang merasa dadanya sakit. Goresan tangan Aksara tampak seperti visualisasi atas luka dan kehilangan yang nyata. Ia merasa bersalah karena membiarkan jarak membentanf luas di antara perasaan mereka. Elang kembali bimbang.
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 122 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
DIARY SKIZO

DIARY SKIZO

Tentang mimpi selaksa kejora Kuserah atma, bila cinta tak lagi bara Lebur rasaku Gemuruh dalam dada perlahan luruh Tumpah ruah kasih mengharu biru Sinar terik mentari serupa aurora peretas ragu Denting-denting jemarimu lembut mengitari Pada tiap-tiap inci kulit diri Memintal gundah jadi bahagia Menukar nestapa Mengubur luka di dalam palung sanubari Aku kalah Menyerah Segalamu teramat indah untuk terabai begitu saja _________________________________________________ "Rin ...." "Hmm ..." sahutku dari balik selimut. "Tau nggak, ini namanya apa?" "Apa?" "Ini namanya siang pertama." Aku tergelak, masih dengan selimut menutupi wajah.
106.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 215 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
MISTER GEPENG

MISTER GEPENG

Jelasku “haaaaah”. Ucap tamara dan vino terkejut Vino hanya menatapku dan bertanya lagi “coba mana liat gambarnya” Aku mengeluarkan kertas itu dari dalam tasku dan menunjukkan ke mereka. “nih”. Aku menyodorkan kertas itu Mereka melihat kertas dengan gambaran sketsa toilet wanita dengan ekspresi yang sedikit terkejut dan juga penasaran.
104.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Ia tahu, air bukan satu-satunya yang telah bocor—kepercayaan juga mulai menguap. --- Malam itu, Nari duduk sendirian dekat batu tempat anak-anak biasa menggambar dunia impian mereka. Pasir telah tertiup pergi. Garis-garis peta buatan Luma telah pudar. Dia menggambar lagi. Kali ini, dia tidak menggambar sungai atau hutan. Dia menggambar dua sosok berdiri saling memunggungi, tetapi bayangan mereka mengarah saling mendekat.
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Touch Me if You Dare

Touch Me if You Dare

tanya Glen lagi dengan ekspresi tidak percaya. "Demi Tuhan, Glen. Aku tidak bohong. Kita sudah lama hilang kontak. Aku tidak tahu di mana Jane berada.' "Lalu ... bagaimana kau menjelaskan sketsa-sketsa ini? Lihat tanggalnya, masih baru, Cher." "Iya, sketsa-sketsa itu memang masih baru. Maksud kamu apa sih, Glen? Aku tidak mengerti." "Sketsa ini dibuat oleh Jane, kan? Kau memakai jasanya untuk peluncuran rancangan terbaru, kan?"
1075.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.5K kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Jeratan Cinta Kakak Tiri

Jeratan Cinta Kakak Tiri

Sketsa close up dirinya yang terlihat sangat detail dan nyata. Brian menganggukkan kepala. “Sketsa itu sudah lama aku buat untukmu, tapi aku baru berani memberikannya sekarang. Luna… aku…” Dengan berani Brian menyentuh tangan kiri Luna yang berada di atas meja, membuat wanita itu tersentak kaget dan segera menarik tangan sebelum Brian melanjutkan ucapannya.
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Mengejar Mentari

Mengejar Mentari

Drett Ponsel Defandra bergetar. Defandra yang masih sibuk dengan kameranya belum sempat fokus pada ponsel. Ia terus membidik Dzi dari berbagai posisi. “Kena kamu. Asal kau tahu Bosku sangat mencintaimu. Kapanpun dia menginginkanmu ada di dekatnya, kau sama sekali tidak bisa mengelak yang Mulia Ratu.” Gumam Defandra sambil memandang hasil jepretannya berkali-kali. Ia melirik posisi duduk Dzi dan Firman yang kini sudah kosong seorang pelayan sedang melangkah mendekati meja yang baru dipakai mereka. Tangannya cekatan mengambil peralatan bekas makan dan meletakkannya di nampan. Ia mengambil kain lap. Setelah menyemprotkan cairan ke meja, ia segera membersihkannya.
109.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 206 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Dua Tuan Tampan

Dua Tuan Tampan

Srett! Satu lembar sketsa jatuh tepat di kaki Bima. Itu adalah sketsa wajah seorang anak kecil yang sedang tertawa, sketsa Rian yang ia buat semalam. Bima menunduk, memungut lembaran itu. Raina membeku. Ia merasa sangat malu. Lagi-lagi, ia ceroboh dan menjatuhkan sketsanya di hadapan seorang pria penting. Dan kali ini, di hadapan Bima Samudra, seniman yang sangat ia kagumi.
10969 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25 kali sebagai sketsa murni
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status