Cinta yang Salah
“Iya, Sayang. Aku hanya takut kehilanganmu saja. Sampai detik ini rasa cintaku padamu nggak pernah berubah, Mi. Justru semakin bertambah.”
Aku bangkit dan mengecup keningnya.
“Aku juga sama kayak kamu, Pi. Kamu tetap saja baik. Malah tambah baik setiap detiknya. Bagaimana aku nggak semakin jatuh cinta sama kamu, Pi?”
Kini aku meraih badannya dan mendekapnya erat. Aku tak menyangka, rasa cintaku begitu besar padanya. Demi dia, aku pun rela hubungan dengan orang tua menjadi sedikit ada jarak. Mata dan hatiku sudah dibutakan oleh cinta. Namun, cinta inilah yang membuat perubahan besar pada diri kami. Sikapku dan Faniza, lambat laun lebih terarah dan semakin mendekatkan diri pada Sang Kuasa.
Hot Chapters