Novel 'Invisible String' memang sering dibahas sebagai kisah tentang takdir cinta, tapi menurutku, lebih dari sekadar itu. Buku ini menggali bagaimana dua orang yang terhubung oleh sesuatu yang tak kasatmata bisa menemukan jalan kembali ke satu sama lain meski terpisah waktu dan ruang. Aku suka bagaimana penulisnya tidak hanya mengandalkan konsep 'takdir' sebagai plot device, tapi juga mengeksplorasi pilihan karakter yang membentuk hubungan mereka.
Dari pengalamanku membaca, ada momen di mana protagonis justru melawan 'takdir' dengan membuat keputusan yang tidak terduga. Ini yang bikin ceritanya lebih manusiawi—kombinasi antara kebetulan dan kesengajaan. Kalau mau dibahas lebih dalam, mungkin 'benang tak kasatmata' itu adalah metafora untuk ikatan emosional yang tetap ada meski kita mencoba melupakannya.