Suami Adikku Memuja Rahimku
Tekanannya kini statis, berat, dan terasa posesif—sebuah klaim bisu yang kontras dengan posisinya sebagai suami adikku.
Shaka menyesap jus jeruknya perlahan, matanya tidak pernah lepas dariku. "Tepat?" ulangnya dengan suara rendah yang menggetarkan udara. "Seingatku, Mahesa bukan tipe pria yang suka dengan barang bekas orang lain."
Aku menggenggam sendok erat-erat. Kata bekas itu meluncur seperti sembilu.
"Bekas? Apa maksudmu, Shaka?" Papa menyipitkan mata, kecurigaan mulai merayap di wajahnya. "Jangan bilang kamu berhubungan dengan pria lain di belakang Papa, Sekar?!"