Pendekar Semprul
Udara dingin menyembur keluar, membawa aroma aneh—campuran bunga layu, besi berkarat, dan dupa yang sudah mati sejak ratusan tahun.
Sura, Tarno, dan Jaka Warangan berdiri diam. Di balik gerbang itu, membentang Rawa Sukma—danau dangkal berhias pohon-pohon mati, dengan kabut menggantung rendah. Airnya tampak diam… namun sekali-sekali muncul riak dari tengahnya, seperti sesuatu yang menyelam perlahan.
> “Ini bukan rawa biasa,” ujar Jaka. “Airnya bisa membaca isi hatimu. Kalau kau bohong, kau tenggelam.”
Hot Chapters