BAU MASAKAN DI TENGAH HUTAN
Nafas saling memburu, menghirup udara dengan rakus masuk kedlam paru-paru.
Kaki terasa ngilu, kami berlari seperti orang kerasukan. Tidak peduli dengan tajamnya duri-duri sawit yang terdapat pada pelepah daunnya.
Keringat mengucur deras, rasanya sudah tidak sanggup lagi mengejar mahluk itu. Aku tertunduk dengan tangan ku letakan pada kedua lutut, mencoba mengembalikan tenaga yang tersisa.
Zaki ikut berhenti di depanku, sepertinya dia tidak kalah lelah dariku. Kami berdua memutuskan untuk beristirahat di tempat itu.