Hajatan Tetangga
Jantungku serasa berhenti ketika salah satu staf menyuruh untuk menyelesaikan cicilan yang nunggak.
"Demi menghargai jiwa besar Pak Subur kami usulkan nama komplek ini kita ganti jadi Anugrah Subur Makmur," kata salah seorang di antara mereka.
Aku sampai terjungkal ke belakang karena terkejut mendengar perkataannya itu. Dari pada malu, aku pura-pura pingsan saja. Sialnya ada pula bidan menyadarkanku, bau minyak kayu putih membuatku terpaksa berdiri. Kulihat sekeliling orang-orang pada heran melihatku. Duh, malunya.