Menikahi Kakakku yang Koma
Tanpa sadar, bibirku menyentuh kulit wajahnya—sekilas saja, bukan ciuman yang hangat, lebih seperti seseorang yang mencoba mengingat suhu kehidupan.
Sentuhan yang asing, kaku, tapi menenangkan dengan cara yang aneh.
“Bangun,” bisikku di antara air mata yang jatuh di pelipisnya.
Satu kata. Lalu sunyi lagi.
Dan di tengah sunyi itu, jari-jari Tama menggenggam tanganku.
Bukan gerak samar—genggaman penuh, kuat, hidup.
Seketika napasku berhenti.
Capítulos em Alta