Duka Cita
Sembari memijat pangkal hidungnya, Tessa keluar kamar dan langsung menuju ke ruang keluarga.
“Ngapain kamu di sini?” ketus Tessa mendadak kesal melihat kehadiran Pandu. “Kerjaanmu itu, selalu aja buat masalah!”
“Ma—”
“Mama itu sampai nggak tahu lagi harus ngomong apa,” potong Tessa lalu menghempaskan tubuh di sofa single, dan bersandar dengan semua penatnya. “Sekarang Mama tanya, kalau seandainya anakmu sama Laura nanti perempuan, terus ada laki-laki yang … berengsek seperti kamu! ck, ingat karma, Ndu!”
Bab Populer