Selir Yang Terlupakan
Dari kejauhan terdengar samar suara pergantian penjaga, desir angin yang menabrak atap genteng, namun waktu seolah berhenti berputar di sini.
Tepat sebelum langit mulai memutih di ufuk timur, pintu berderit pelan terbuka. Mei Mei menyelinap masuk, napasnya terengah-engah, pipinya merah merona karena dinginnya udara malam.
"Sudah selesai, Nyonya," bisiknya sambil berlutut di samping kursiku. "Semuanya sudah dikirim. Utusan itu sudah memastikannya padaku."