BLACK EYE : When The Story Begin
Senyumnya benar-benar tidak bisa didefinisikan pada sebuah kata, namun kini matanya memandang lurus ke arahku, mata berwarna gelap dan tajam.
“Cepat selesaikan!” bentaknya.
Mataku pun terbuka lebar, dan dadaku merasakan sesak yang luar biasa menusuk. Nafasku kini berantakan, dan keringat mengucur dengan deras di pelipisku. Aku benci saat ia sudah kembali, baru saja sehari aku tidak merasakan mimpi buruk, kenapa hari ini aku harus merasakannya kembali. Mungkin ibu tidak bercanda, ia akan terus mengawasiku, wanita itu akan terus memperhatikan gerak-gerikku. Walaupun sepuluh tahun lalu ia sudah terbakar, namun jiwanya akan terus menghantuiku selamanya.
Hot Chapters