Ada satu cerita yang selalu membuatku merinding setiap kali mengingatnya—'The Old Man and the Sea' karya Ernest Hemingway. Kisah ini bukan sekadar tentang seorang nelayan tua yang berjuang melawan ikan marlin, tapi juga perlambang pertarungan abadi antara manusia dan alam. Gunung dan laut di sini bukan sekadar setting, tapi karakter itu sendiri. Santiago, sang protagonis, menghadapi laut yang kejam seperti pendaki menghadapi tebing curam. Yang bikin gregetan adalah bagaimana Hemingway mengeksplorasi filosofi kesendirian dan ketekunan melalui metafora alam ini. Aku pernah baca ulang buku ini sambil mendaki Gunung Rinjani, dan somehow rasanya lebih menyentuh.
Di sisi lain, ada juga legenda Yunani kuno tentang Odysseus yang berlayar pulang setelah Perang Troya. Lautan dalam 'Odyssey' adalah tempat monster dan godaan, sementara gunung (seperti Olympus) jadi simbol kekuatan para dewa. Kombinasi dua elemen alam ini menciptakan dinamika epik yang masih memengaruhi banyak cerita petualangan modern. Kalau mau lihat versi lebih 'fun', anime 'One Piece' juga pakai tema serupa dengan Grand Line yang misterius dan Red Line yang megah.