Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
The Gray Silhouette of Love

The Gray Silhouette of Love

Belum sempurna aku menjawab tanya Tasya, ponselku sudah memberikan jarak pemisah, bergetar diatas meja karena ku pasang dengan mode silent. "O-Oh NO, speak of the devil" ujar Tasya saat melihat sebuah nama dan foto Arnold terpampang jelas dilayar ponselku. Aku melirik Tasya karena merasa tak sedang ingin bicara dengannya. "Angkatlah. Aku tidak apa-apa" tapi Tasya tidak paham maksudku. "Hai" aku mengangkatnya juga. "Hai. Kau sedang apa, Dek? Tidak sedang sibuk, kan?"
1011.7K viewsCompletedAdded to Library 304 Times as the silent patient
Show Reviews (4)
Read
+Library
Wika Cahaya
Bagi para reader "d-grey sillhouette of love" karena bab awal unlock yg terlalu panjang hingga babnya jd malah, bisa langsung loncat ke bab 35... yang chapternya sudah lebih pendek. Thank for your support guys! Bless you all.
malapalas
BACA novel berjudul :FREL. Banyak kejutan di dalamnya. Selain tentang cinta segitiga yang bikin baper, gemes dibumbui humor dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi dg persahabatan, keluarga, luka dan rahasia di masa lalu orangtua yang akan membuat cerita lebih seru dan menjungkirbalikkan perasaan.
Read All Reviews
Silent love

Silent love

Rini menuntun Mama Letta duduk di kursi Setelah menunggu lama suster keluar dari ruangan dan mempersilahkan keluarga pasien untuk masuk ruangan, disana Letta masuk sendiri dan duduk di depan Doktef. "Sebenarnya ada apa sama anak saya Don? " tanya Letta tanpa basa-basi "baiklah buk saya harap ibu tabah menerima ini, anak ibuk terkena tumor jinak buk" "Apa! Gak mungkin Dok, anak saya sehat-sehat aja kok" "memang tumor yang di derita anak ibu termasuk sulit untuk di deteksi,bahkan terbilang tanpa gejala" terang Dokter
103.6K viewsOngoingAdded to Library 137 Times as the silent patient
Read
+Library
Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku

Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku

Adikku mengidap autisme. Para dokter menyebutnya "kelebihan rangsangan sensorik yang parah". Aturannya sederhana. Tidak boleh ada suara yang tiba tiba. Sama sekali tidak boleh. Jadi, sepanjang hidupku harus dijalani dalam keheningan. Aku tidak pernah memakai sepatu hak tinggi. Aku tidak pernah meninggikan suara. Aku bahkan tidak diizinkan tertawa. Semua itu demi mencegah adikku mengalami krisis emosi. Ayahku, Victor, kepala Keluarga Chaniago, sering menggenggam bahuku. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah saat berkata, "Sera, kamu anak baik Ayah. Melindungi adikmu adalah tanggung jawab kita. Kamu sehat dan kuat. Kamu pasti bisa sedikit berkorban demi dia, bukan?" Hari itu, aku berada di teras lan
2.7K viewsCompletedAdded to Library 54 Times as the silent patient
Read
+Library
Rahasia Sang Dokter

Rahasia Sang Dokter

Ia baru saja hendak kembali berdoa ketika suara nyaring itu menyapa telinga Adam dan menimbulkan kepanikan luar biasa. Mata Adam lihat betul garis lurus itu. Garis horisontal berwarna merah itu terlihat jelas. Membuat Adam lemas selemas-lemasnya. 'Nggak! Tolong jangan di sini!" *** "Sudah dicatat waktu kematiannya?" sebuah pertanyaan yang begitu santai keluar dari mulut dokter Stefan. Membuat Adam membeliak setengah tidak percaya bahwa sosok itu bisa begitu santai setelah kehilangan satu pasiennya.
10141.0K viewsCompletedAdded to Library 3.5K Times as the silent patient
Read
+Library
Kesendirian

Kesendirian

Aku berusaha tahan nafas untuk tidak mencium baunya, tapi tetap saja tidak bisa. Maka dari itu aku muak sekali dan tidak bisa terlelap untuk tidur siang ini. Tetangga sebelah memang tidak tahu ya, kalau aku tidak tahan akan baunya. Aku keluar dari kosan dan duduk santai di teras depan. “Hai, Nak melamun aja, nih.” Ucap Pak Satpam. “Ya, Pak. Pak mencium sesuatu yang menyengat tidak?”
102.3K viewsOngoingAdded to Library 62 Times as the silent patient
Read
+Library
Cintai Aku, Pak Dosen!

Cintai Aku, Pak Dosen!

Mata biru gelapnya yang tajam, seakan dapat menembus relung hati siapapun jika ia menatapnya. “Aerin, buku yang kau tunggu sudah datang,” kata Julian, mengalihkan fokus gadis itu. “Oh! The Silent Patient!” seru Aerin.Meski jantungnya masih berdebar karena kehadiran Ronn di belakangnya, mata Aerin langsung berbinar melihat sampul itu dari kejauhan. Ia melesat ke pojok fiksi seperti sudah hafal letaknya tanpa diberi tahu. Julian tersenyum kecil.
101.7K viewsCompletedAdded to Library 38 Times as the silent patient
Read
+Library
Protokol Senyap: Aletheia

Protokol Senyap: Aletheia

Pagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi.
377 viewsOngoingAdded to Library 12 Times as the silent patient
Read
+Library
Little Secret

Little Secret

Bau anyir darah mulai tercium samar-samar dari ruangan itu. Rafael melepaskan cekikannya dari leher Madam May. Darah segar mengucur deras dari luka di leher wanita itu, merah menyala di atas kulit pucatnya. Bau anyir darah memenuhi ruangan. Tanpa sepatah kata pun, Rafael berbalik dan pergi, langkahnya tergesa-gesa, meninggalkan keheningan yang dipenuhi aroma kematian. Sebelum benar-benar pergi, dengan gerakan cepat dan penuh amarah, ia melemparkan sebuah kartu hitam – Black Card – ke atas meja, kartu itu mendarat dengan bunyi thud yang nyaring.
1.9K viewsOngoingAdded to Library 72 Times as the silent patient
Read
+Library
Perfect Secret

Perfect Secret

panggil Arfan mulai mengetuk pintu. Saat tidak mendengar sahutan, akhirnya Arfan memutuskan untuk masuk. Dia menghela napas kasar saat melihat kamar Kia yang masih gelap, bahkan tirai jendela juga belum dibuka. Akhirnya Arfan masuk dan melihat Kia yang masih tidur dengan lelap.
1040.1K viewsCompletedAdded to Library 1.4K Times as the silent patient
Read
+Library
The Secret

The Secret

Termasuk soal mereka yang sudah kuhabisi nyawanya. Dinar menatapku tanpa berkata-kata. Ekspresi di wajahnya berubah-ubah, meski kebanyakan ia memasang ekpresi ngeri seolah sedang menonton film horor. Ia tetap bungkam meski ceritaku sudah berakhir lima belas menit yang lalu. "Gila lo." kata Dinar pada akhirnya. "Kayaknya, sih."
1012.3K viewsOngoingAdded to Library 393 Times as the silent patient
Read
+Library
PREV
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status