Tanpa Ayah di Hari Terakhir
“Kebetulan masih ada dua di saku. Kasih saja ke Damar. Sayang kalau terbuang.”
Wajahku perlahan memucat.
Aku menatap dua permen di telapak tanganku. Cahaya di mataku perlahan padam, menyisakan kelelahan dan kehampaan yang mendalam.
“Ya.”
Tinggal satu hari lagi.
…
Hari ketiga, aku pergi sendiri ke krematorium, mengantar anakku untuk perjalanan terakhirnya.
Malam itu, setelah pendaftaran sekolah dasar selesai, Yuda tak ada di rumah. Aku dan Damar duduk di halaman, menikmati angin malam.