Saat Istri Bodoh Itu Pergi
“Bukan marah. Bukan benci. Lelah.”
Aku melangkah melewatinya, menuju kamar. Langkahku mantap, tidak ragu. Di depan pintu, aku berhenti sejenak.
“Kita bisa bicara lain kali,” kataku. “Kalau memang masih perlu.”
Aku menutup pintu kamar, meninggalkannya sendiri di ruang tamu.
Di dalam kamar, aku bersandar di pintu beberapa detik. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena sadar—aku baru saja melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah berani kulakukan.