Misteri Rumah Mewah di Perkebunan Sawit
Sorenya baru mereka pindah ke sisi Utara.
“Kayaknya mereka sudah datang, Dek. Ayo turun, jangan lupa buatkan mereka kopi dulu, masih terlalu pagi kalau mulai sekarang.”
“Iya, Mas.” Buru-buru aku aku habiskan teh beraroma melati yang tinggal setengah lagi. Kemudian membawanya ke bawah.
Ketika melintasi kamar aneh itu, aku memejamkan mata, sambil memegangi tangan Mas Halid.