DIAMNYA ISTRIKU
POV MAYA
"Jangan kamu pikirkan ucapan Luna, May," ucap Indah. Dari pulang mengantar Rashi dan Nadira sampai tiba di salah satu butik milik Indah, aku hanya terdiam. Kepikiran ucapan Luna. "Kamu bisa cerita saat kita sampai di ruanganku," ujarnya. Aku hanya mengangguk. Butiknya begitu besar. Bran branded terpampang di manapun. Ini bukan hanya menjual pakaian mahal, tapi juga tas dan sepatu. Rame juga pengunjung. Aku yakin, omsetnya pasti jutaan. Gila, satu butiknya pun sudah memperlihatkan kesuksesannya. Sedangkan dia memiliki kurang lebih hampir 30 butik yang juga tersebar di beberapa kota. Luar biasa. Ini sih bisa hidup tanpa laki-laki. Bahkan kalau ada laki-laki yang mendekatinya pun, dia