Pembantu Rasa Nyonya
Dia menghela napas, kemudian menyesap teh yang aku hidangkan.
“Aku tidak apa-apa. Hidup itu seperti musim. Ada musim hujan, musim semi, musim panas, bahkan musih salju yang membuat semua membeku. Begitu juga kehidupan. Ada kalanya senang, sedih, gembira, dan bahkan menangis. Di usiaku yang sekarang, itu sudah biasa. Aku akan menghadapinya dengan senyuman,” ucapnya dengan tersenyum miring. Kesedihan di wajahnya mulai nampak.