TEMAN WANITA AYAHKU
Tangannya kembali ke keyboard, mencoba melanjutkan naskah yang tadi nyaris selesai, tapi kini pikirannya tak setenang tadi.
Kata demi kata diketik, dihapus, diketik ulang. Ada jeda panjang di antara huruf dan tanda titik. Pikirannya menolak fokus. Suara jantungnya sendiri seperti terlalu keras. Bayangan seseorang—seseorang dari masa lalu yang mestinya sudah lama dia kubur—kembali hadir, mengetuk sisi batin yang sudah terlalu lama mencoba kuat.
Akhirnya, tangan itu pun berhenti. Layar laptop menampilkan kalimat terakhir yang dia tulis dan dia tahu, itu bukan akhir yang dia mau. Namun, untuk hari ini, cukup.