DOSA TERINDAH
“Aku ingin kamu, hanya ingin kamu.”
Dia merapikan rambutku, menyelipkannya ke belakang telinga. Kali ini aku tak punya kekuatan untuk menepis tangannya. Maka kubiarkan tangan itu kembali mengusap keningku.
“Aku juga ingin kamu.”
“Berjanjilah kembali padaku, Ay. Aku akan menunggumu. Aku tetap di sini, masih dengan perasaan yang sama. Kembali lah padaku, kapan pun itu.”