Gelang Langit
“Aku juga merasakannya. Jangan menatap balik terlalu lama, cukup rasakan di dalam. Bayangan itu bukan musuh, tapi cerminan dari apa yang kita bawa.”
Langkah mereka membawa ke sebuah hamparan batu berwarna abu kebiruan. Di tengahnya berdiri pilar-pilar kecil menyerupai batu nisan yang memancarkan cahaya lembut. Suara-suara yang tadi menggema kini terdengar seperti bisikan doa, tak jelas bahasa apa. Tirta menelan ludah, merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ayu berjongkok, menyentuh permukaan batu yang licin. “Hangat,” katanya pelan. “Seperti kulit yang hidup.”
Hot Chapters