Penyamaran CEO Tanaka
Ia tidak paham arti kata-kata itu sepenuhnya, tapi entah kenapa, hatinya terasa ikut sesak.
Sore itu, mereka berdiri di balkon lantai tiga bangunan utama, memandang matahari yang mulai turun ke garis laut. Dari sini, proyek yang sedang dibangun terlihat kecil, tapi indah—seperti kota mini yang tumbuh perlahan dengan keringat dan harapan banyak orang.
Maya memeluk clipboard-nya erat, sementara angin laut meniup rambutnya. Ardi berdiri di sampingnya, jarak mereka hanya sehelai napas.