Antara Cinta dan Luka
Rian berdiri di sisi panggung, matanya menyelami Naya, seperti melihat jiwa yang terluka.
"Rasakan liriknya, Naya," katanya, suaranya lembut tapi tegas. "Bukan cuma nyanyi—ceritain luka lo. Lagu ini punya jiwa karena lo."
Naya mengangguk, menarik napas dalam, tapi suaranya pecah di bait pertama. Bayangan ayahnya muncul di pikirannya—Budi Santoso, pria yang dulu mengajarinya piano dengan tawa hangat, lalu menutup pintu apartemen tanpa pamit, meninggalkan ibunya menangis di dapur. Setiap nada yang ia nyanyikan terasa seperti membuka luka itu kembali, seperti darah yang mengalir dari hati. Auditorium ini, dengan kursi kosong dan aroma cat panggung yang baru, terasa seperti mimpi buruk.