Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi
“Maafkan aku, Ma. Aku janji, apapun yang terjadi aku gak bakal pergi ninggalin Mama, “batinnya lirih.
Bimo mengambil ponselnya untuk mematikan alarm nya, namun pergerakannya itu membuat Mayang terganggu dan perlahan membuka kedua matanya.
“Bimo, ini sudah jam berapa Nak? “ Tanya Mayang seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Bimo menoleh ke arah Mayang yang sudah terbangun olehnya. Wajahnya memerah melihat gundukan bukit kembar Mayang terpampang nyata di depannya tanpa penghalang apapun.“Eh, maaf Ma. Suara alarmku malah membangunkan Mama juga. Kalau Mama lelah, Mama tidur lagi saja. Pagi ini biar Bimo yang menyiapkan sarapan untuk kita.”