HIATUS
Dia menjadi sedikit pendiam, kadang memang mudah emosi tapi tidak sekasar biasanya, dan terlihat begitu tidak berdaya.
“Sebentar lagi Ashar, jadwalku adzan hari ini.” Dan satu lagi, manja. Lelaki itu mendaratkan keningnya yang pusing ke bahuku dengan kedua lengan yang mengalung erat di pinggangku. Melihatnya yang seperti itu, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Balik kulingkarkan tangan ke tubuhnya, Tuan Harraz perlahan menjauhkan diri dan menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
“Limabelas menit lagi,” ujarnya lalu pergi ke samping bangunan yang ada menara yang lumayan tinggi di atasnya untuk berwudhu’.
Bab Populer